Amang, dalam Bahasa Batak berarti Ayah. Bagi seorang Ridhwan Ermalamora Siregar, atau yang kerap disapa Iwan, sosok Amang – Sory Ersa Siregar – merupakan seseorang yang luar biasa yang senantiasa menjadi panutannya. Meskipun pernah suatu hari terlontar “Dasar anak monyet” dari mulut sang ayah, buat anak sulung dari tiga bersaudara ini merupakan salah satu bentuk kasih sayang kepada dirinya sebagai peringatan saat ia kelewat batas.

Sayangnya, kesibukan Amang sebagai jurnalis televisi membuat masa muda Iwan jarang mempunyai waktu bersama. Di penghujung tahun 2003, di saat kebanyakan orang bersiap menyambut pergantian tahun tersiar kabar mengejutkan.

Bang Ersa, sapaan akrab Amang, yang saat itu sedang menjalankan tugas meliput konflik di Aceh meninggalkan keluarganya untuk selamanya. Sebelumnya, sejak 23 Juni 2003 beliau bersama dua disandera oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pada 29 Desember terjadi kontak senjata antara TNI – GAM di Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur, dan Amang menjadi salah satu korban sipil yang tewas. (sumber).

Hingga kini, kisah pahit itu masih terus dikenang yang diselimuti penyesalan oleh Iwan karena sangat sedikit waktu yang ia habiskan bersama Amang. Hal ini yang mendorong salah satu fotografer muda dan berbahaya ini untuk membuat pameran fotografi sekaligus meluncurkan buku perdananya ‘(Mencari) Amang’ yang diadakan di Dolanan Preschool Dharmawangsa, Jakarta Selatan (7/1).

Kegelisahan ini pun sempat menghampiri Iwan saat ia menjadi Amang untuk anak pertamanya, Messi. Sangat sedikit waktu yang ia miliki untuk berbagi bersama keluarga saat masih bekerja sebagai fotografer salah satu pejabat partai yang membuatnya sering meninggalkan keluarga kecilnya. Berbagai momen perkembangan Messi, seperti langkah jalan pertamanya, harus ia lewatkan. Beruntung Iwan sempat mengabadikan gigitan gigi pertama Messi di buah apel, yang fotonya turut dipajang di pameran ini.

Namun rupanya Tuhan seperti memberi jawaban atas kegundahan yang Iwan alami. Sang istri, Olga, diberi kesempatan untuk melanjutkan studi di New York, AS. Meskipun sempat terjadi pergulatan batin karena Iwan harus meninggalkan pekerjaannya di sini, tetapi Iwan lebih berat memilih untuk keluarga. Ia ingin anaknya tumbuh bersama sosok ayah di sisinya. Dua tahun mendampingi istri dan anaknya di Amerika membuat Iwan belajar memahami begitu besar dampaknya seorang anak yang dibesarkan dengan kehadiran ayah. Momen-momen ini terdokumentasikan dengan apik lewat jepretan kamera pria lulusan Intenational Center of Photography New York ini.

Lewat pameran fotografi (Mencari) Amang ini, Iwan ingin berbagi tentang berbagai macam hal personal yang ia alami bersama anaknya. Harapannya sederhana. Iwan ingin supaya para ayah yang melihat foto-fotonya bisa meluangkan waktunya lebih banyak untuk keluarga, terutama anak. Momen ini juga ia manfaatkan sebagai ungkapan penghargaan dan rasa terima kasih sebagai seorang anak kepada sang ayah. Sosok Amang yang ia cari selama ini.

Related Post

Bagaimana Pendapatmu?