Hidup dan bekerja di Jakarta bisa dikatakan sangat dinamis dan harus tahan banting. Waktu yang sudah dianugerahi Tuhan, 1 hari = 24 jam, rasanya tidak pernah cukup. Buat saya sebagai kaum komuter seperti harus memutar otak untuk menghadapi keseharian. Rasanya jika kita tidak gerak cepat, siap-siap ketinggalan oleh orang lain.

Bayangkan saja, mulai dari bangun pagi hingga kembali ke tempat tidur semua harus dipikirkan. Misalnya masuk kantor jam 9 pagi, berarti harus dipikirkan perkiraan waktu tempuh, cari jalan alternatif supaya cepat tiba di kantor, bahkan sampai naik kendaraan pun harus dipikirkan. Belum lagi kepikiran tugas kerjaan atau ada presentasi. Keluarga atau pacar, bahkan teman juga bisa menambah masalah. Ah… sudahlah terlalu banyak dipikirkan malah tambah pusing.

Jadi ingat pada saat masa kuliah tahun 2003-2007 di saat kereta api listrik Jabodetabek belum menjadi Commuter Line. Setiap ada jadwal kuliah jam 7:30 pagi, dari Bogor saya harus berangkat maksimal jam 6:30. Telat sedikit saja, jatah absen harus direlakan berkurang satu. Sampai di stasiun harus mengantri membeli tiket di loket yang pembayarannya hanya bisa menggunakan uang tunai. Untuk mendapatkan tiket saja antriannya cukup panjang dan menghabiskan waktu sekitar 5-10 menit. Waktu yang dihabiskan bisa lebih lama ketika loket kehabisan uang receh untuk kembalian.

Dengan kemajuan zaman, alat pembayaran berevolusi dari alat pembayaran tunai (cash based) ke alat pembayaran non tunai (less cash). Bersyukurlah sejak Juli 2013 Commuter Line akhirnya menggunakan sistem non-tunai berbentuk kartu dan bisa menggunakan dari berbagai penyedia jasanya, baik dari pihak Kereta Api Indonesia (KAI) ataupun kartu uang elektronik keluaran bank-bank terkemuka di Indonesia. Cepat dan praktis.

Tidak hanya Commuter Line, transaksi non tunai sudah dapat dilakukan di banyak fasilitas umum lainnya. Selain contoh di atas saya juga menggunakannya dalam keseharian misalnya untuk jalan tol, supermarket, online shop, asuransi, hingga ojek online. Pergeseran ke pembayaran non tunai dengan alasan efisiensi, kecepatan, kenyamanan, dan keamanan. Belum lagi promo yang ditawarkan tentunya turut menguntungkan penggunanya.

cashless-03
Grafik via ChoiceLoans

Uang tunai sudah mulai tergantikan oleh non tunai. Tidak sekedar berbentuk kartu, di masa depan dompetmu adalah smartphone-mu. Sejumlah perusahaan besar non bank seperti Apple dengan Apple Pay-nya dan Google dengan Google Wallet-nya ikut bermain menawarkan dompet digital.

cashless-02
Grafik via ChoiceLoans

Penetrasi metode pembayaran elektronik sudah berkembang di seluruh dunia. Sebagai contoh, di Australia, porsi pembayaran dengan uang tunai dibandingkan total transaksi pembayaran menurun dari 73 persen pada 2005 menjadi 59 persen pada 2013. Diperkirakan porsi ini akan terus turun menjadi 43 persen pada 2018, atau berkurang rata-rata 3 persen per tahun.

Di Indonesia, penggunaan transaksi pembayaran berbasis elektronik yang dilakukan bisa dibilang masih relatif masih rendah, bahkan dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Oleh karena itu tahun 2014, Bank Indonesia mencanangkan secara resmi ‘Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT)’ atau Smart Money Wave untuk menggenjot transaksi non-tunai sehingga terbentuk masyarakat yang menggunakan instrument tersebut (Less Cash Society/LCS). Dengan banyaknya populasi penduduk yang tersebar di seluruh wilayah nusantara, tentu hal ini merupakan potensi yang sangat besar.

Di tengah gencarnya pemerintah melakukan kampanye kebiasaan masyarakat untuk bertransaksi menggunakan non tunai, tampaknya tidak akan sepenuhnya menghapus keberadaan uang tunai. Pola pikir masyarakat saat ini masih merasa nyaman memegang uang tunai dibanding kartu atau digital. Sulit pula untuk membeli jajanan di pasar atau membeli barang di kaki lima dengan pembayaran non tunai. Di samping itu sistem ini masih memiliki kelemahan terkait masalah teknologi dan gangguan fisik karena sangat bergantung pada infrastruktur telekomunikasi. Belum sepenuhnya wilayah Indonesia yang begitu luas ini memiliki jaringan telekomunikasi yang baik secara keseluruhan dan resiko bencana alam.

Transaksi di pasar tradisional
Foto: Shutterstock

Meskipun masih rendah, transaksi non-tunai di Indonesia meningkat tajam sejak beberapa tahun lalu. Menurut catatan Bank Indonesia, pada tahun 2009 terjadi 48 ribu transaksi dengan nilai Rp 1,4 miliar per hari. Jumlah ini terus meningkat pada tahun 2012 menjadi 219 ribu transaksi dengan nilai Rp 3,9 miliar per hari.

Keuntungan pemanfaatan non tunai bagi negara tentunya akan menghemat anggaran untuk pengelolaan uang tunai di masyarakat. Menurut Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI Eko Yulianto, pengeluaran Bank Indonesia menganggarkan dana sedikitnya Rp 3,5 triliun untuk mencetak dan mendistribusikan uang tunai ke seluruh Indonesia.

Non tunai juga dapat membantu kontrol keuangan negara karena setiap transaksi yang dilakukan akan tercatat di data perbankan sehingga lebih akurat dan detil. Pemerintah dapat melakukan pemetaan dari data tersebut untuk merencanakan pembangunan ekonomi.

Melalui penggunaan non tunai, pengawasan tindak kriminal terhadap uang akan lebih mudah. Semakin berkembangnya teknologi, uang tunai asli semakin mudah untuk dipalsukan. Hal ini mengharuskan pemerintah untuk senantiasa memperbarui sistem keamanan uang yang berimbas pada besarnya biaya produksi. Selain itu, penggunaan non tunai juga dapat membantu pengawasan tindak korupsi, penghindaran pajak, dan kecurangan ekonomi ilegal lainnya karena setiap kegiatan transaksi akan terdokumentasi dan lebih transparan.

Program penyaluran bantuan dari pemerintah pun kini sudah mulai dilakukan melalui sistem elektronifikasi seperti yang dituangkan dalam nota kesepahaman antara Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo, Menteri Koordinator Bidang PMK Puan Maharani, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar, serta Pejabat yang mewakili Kementerian Sosial pada bulan Mei 2016.

Upaya ini menurut Gubernur BI ditujukan untuk dapat mengurangi perilaku konsumtif, membangun kebiasaan menabung dan meningkatkan pemahaman penerima bantuan terkait pentingnya merencanakan keuangan dengan baik, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Era baru sudah tak dapat terelakkan. Mungkin akan tiba suatu saat nanti kita cukup membawa membawa dompet yang berisi tumpukan kartu atau menggunakan smartphone ke mana-mana, tanpa membawa uang tunai lagi.

 

Referensi:

http://www.bi.go.id

http://print.kompas.com/baca/opini/duduk-perkara/2015/11/25/Menjadi-Masyarakat-Nontunai

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/08/30/204444826/.Cashless.Society.Ketika.Uang.Fisik.Hilang.dari.Dompet.Anda

http://www.itproportal.com/2015/12/11/how-the-world-is-going-cashless-infographic/

http://finance.detik.com/moneter/2823602/biaya-cetaknya-rp-35-triliun-setahun-bi-uang-tolong-dirawat

Related Post

Bagaimana Pendapatmu?