Siapa sih yang tidak suka traveling? Buat saya traveling tidak sekedar untuk refreshing dari rutinitas, tetapi juga menemukan tempat dan banyak hal baru serta belajar kebiasaan masyarakat setempat. Namun rasanya sangat berbeda traveling setelah menikah dan mempunyai anak dibandingkan saat masih bujangan. Dulu masih bisa jalan-jalan random di suatu daerah tanpa tujuan hanya sekedar ingin menikmati suasananya. Namun sekarang karena anak saya masih berusia satu tahun, jadi segala keperluan harus diperhitungkan.

Bulan Oktober lalu, anak kami Leia berulang tahun yang kesatu. Momen ini kami jadikan trip keluar pertama keluarga kecil kami ke Malang. Mimpi awalnya sebenarnya ingin ke Eropa, tapi apa daya budgetnya belum mencukupi ke sana hehehe…

Seperti tulisan Pengalaman Pertama Leia Naik Pesawat sebelumnya, bagaimana saya menyiapkan untuk trip ke Malang selama kurang lebih 3 bulan. Mulai dari mencari tiket pesawat untuk berangkat ke Malang dan pulang dari Surabaya, tempat yang akan dikunjungi di Malang, hotel di Surabaya, sampai kuliner yang ada di sana. Pokoknya semua dipersiapkan dengan baik.

Kebetulan di Malang kami ada saudara yang tinggal di sana, jadi kami tidak perlu mencari hotel di Kota Apel itu.

Bagi saya, ke Malang kali ini sudah yang ketiga kalinya. Pertama tahun 2009 untuk liputan program CSR perusahaan minyak asing yang mengangkat entrepreneur muda kota Malang, dan yang kedua tahun 2012 untuk mengurus promosi film 9 Summers 10 Autumns. Semuanya kerja. Baru kali ini yang benar-benar liburan. Buat istri dan Leia, ke kota terbesar kedua di Jawa Timur ini merupakan yang pertama kalinya.

Banyak sekali perubahan yang saya rasakan di kota ini. Suasananya semakin ramai dan kebetulan saat kami di sana sedang ada ritual Ruwatan Kota. Area alun-alun dan sekitarnya ditutup karena dipakai untuk acara tersebut, jadi para pengguna kendaraan tidak bisa melintas dan harus memutar lewat jalan lain.

Tak berbeda jauh dengan kota Bandung, kreativitas anak muda di Malang bisa dibilang sangat berkembang. Hal ini saya rasakan dengan semakin menjamurnya kafe-kafe baru yang dikemas dengan gaya kekinian. Sebut saja Madam Wang Secret Garden, Mochi Maco, hingga Java Dancer Coffee.

Mahasiswa menjadi target pasar utama dilihat dari banyaknya universitas dan sekolah tinggi yang bertebaran di kota yang dijuluki Parijs van-Oost atau Paris di Timur Pulau Jawa ini. Mau wisata kuliner keliling Malang tenang saja, harganya tidak mahal. Bawa uang 100 ribu bisa makan berdua dan dijamin kenyang. Selain makanannya enak, tempatnya pun ditata semenarik mungkin sehingga memanjakan pengunjungnya untuk ber-selfie ria. Pokoknya instagramable, alias bagus untuk diposting di Instagram.

madam-wang-02

madam-wang-03

madam-wang-04

madam-wang-05

madam-wang-01

Jika ke Malang, tak lengkap rasanya jika tidak melipir ke Batu. Kota yang dijuluki De Kleine Zwitserland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa ini juga semakin ramai dengan hadirnya tempat wisata yang sangat bagus, seperti Batu Secret Zoo dan Museum Angkut. Sayang, waktu yang terbatas sehingga kami belum mengeksplor banyak dan hanya sempat mengunjungi dua tempat tersebut.

batu-secret-zoo-01

batu-secret-zoo-02

batu-secret-zoo-03

museum-angkut-01

museum-angkut-02

Tak terasa waktu 4 hari di kota Malang sudah berakhir. Bahagia melihat istri dan anak saya menikmati suasana kota ini. Semoga ada kesempatan lagi untuk kembali ke sini.

Related Post

Bagaimana Pendapatmu?